PAUD Impianku

Penerimaan dalam konsep inklusi dan memuaskan anak “bermain” adalah ruh yang akan mengisi impianku dalam membuat sebuah kelompok bermain, dan bahagia adalah kata sakti yang yang akan mengisi visi dan misi kelompok bermainku.

Mimpi tentang PAUD IMPIAN ini bukan sesuatu tanpa dasar dan kebermaknaan, cerita tentang mimpi ini akan daku awali dari sebuah kenyataan tentang pengalamanku, seorang ibu dari anak berkebutuhan khusus dalam membangun sebuah penerimaan akan persamaan hak dalam pendidikan.

Kelompok bermain dalam pengetahuan dan pemikiranku termasuk di dalam bentuk layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk anak usia 2 – <4 tahun dan 4 – ≤6 tahun seperti yang kubaca dan pahami pada bagian pendahuluan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 58 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.

Dan dalam bahan bacaan yang sama bahwa standarisasi PAUD dibuat untuk mengoptimalkan tingkat perkembangan anak, sehingga diperlukan sebuah acuan umum namun masih mempertimbangkan keunikan setiap anak yang membawaku merefleksikan kembali mengenai Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusi.

10420191_10204287942231377_8442065999000958049_nMengintip latar belakang pendidikanku yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan bidang pendidikan, membuatku selama ini hanya berfikir dan bertindak melalui insting dan naluri keibuanku dalam  mengaplikasikan sebuah program PAUD, terutama semenjak aku tidak bisa memasukkan anak berkebutuhan khususku yang seorang autis ke sekolah umum, dan itu pula yang memacu diriku untuk mencari gambaran nyata tentang sebuah lembaga pendidikan yang menyediakan layanan yang bisa menerima seorang ABK di tengah-tengah anak normal yang menurutku “belum tentu” normal.

Permasalahan satu persatu datang menghampiriku karena aku harus berfikir dan bertindak secara komprehensif dalam konsep mengelola sekolah yang baru aku disadari menurut PERMENDIKNAS No. 70 tahun 2009 adalah berstatus inklusi. Ibarat seorang juru masak aku tidak memiliki buku panduan, namun harus membuat hidangan yang bisa diterima di lingkungan manapun walaupun di dalamnya aku memiliki bahan masak yang tidak biasa di lidah, sehingga aku harus memutar otak dalam memodifikasi banyak hal, dalam hal nyata di sekolahku harus memodifikasi kompetensi guru, memodifikasi bahan ajar bahkan kurikulum, lingkungan belajar, bahkan fasilitas belajar dan yang tersulit adalah memodifikasi pemikiran semua daya dukung mereka yang terlibat, susah maupun senang, cepat atau lambat harus terus memberikan masukan tentang sebuah penerimaan, persamaan hak dan layanan yang sekarang kukenali dengan konsep Education for All atau Pendidikan Inklusi.

Di sisi lain aku menemukan masalah yang menurutku sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan, namun karena ini adalah sebuah “birokrasi” jadilah diriku seperti berhadapan dengan sebuah tembok besar dalam melaksanakan visi dan misi sekolah. Tidak sedikit yang tersenyum sinis bahkan di belakang mentertawakan yang kata mereka aku sedang berkhayal dan bermimpi.

Kosakata pusat dan daerah adalah kata-kata yang seringkali menghiasi “mimpi” ku, dimana menurut pusat sudah ada panduan untuk itu (pendidikan inklusi) namun di daerah tidak ada yang mengerti, walaupun ternyata ada yang mengerti atau dipaksa mengerti mereka menyayangkan diriku berada dalam sistem pendidikan “abu-abu” secara pembinaan dan hirarki pelaksanaan, dan diriku menjadi “tidak berdaya” karena lembaga pendidikanku berada di jalur MADRASAH.

Menuju usia empat tahun, sekolahku seolah tidak peduli lagi dengan AROGANSI yang menurutku beda tipis dengan “ketidaknormalan” itu. Sekolahku terus berbenah,tumbuh dan berkembang dan diriku mulai merasakan lingkungan sekolah dan segala daya dukungnya bergerak harmonis, mengisi dan berbagi, ada empati dan simpati di sana, walaupun sesekali masih perlu diluruskan sedikit, tapi kufikir ini adalah sebuah pencerahan. Itu sebabnya ketika seorang Munif Chatib menuntunku dalam banyak karya beliau tentang orang tuanya, sekolahnya, gurunya bahkan kelasnya manusia, akupun seperti merasa tiada, seperti garam yang ditaburkan ke lautan, aku menghilang sekaligus menemukan teman berfikir bahkan berkhayal dan ketika aku benar-benar bertemu beliau, berjabat tangan, bahkan mendengarkan sebuah kuliahnya, aku merasa seperti pulang ke rumah, bertemu dengan mereka yang memahamiku dan membuatku menemukan banyak pemahaman baru (terimakasih Pak Munif). Dan akupun sangat sependapat bahwa kecerdasan itu adalah sebuah pembiasaan, namun membuat konsep pembiasaannya itu yang “MAHAL” dan itu adalah sebuah “PERJUANGAN” yang sudah semestinya kita lakukan sebagai KHALIFAH di muka bumi ini.

Sekarang sekolah kami lebih santai, ketika seisi sekolah bertindak sebagai khalifah, maka semua akan terasa mudah. Menurut seorang praktisi Okupasi Terapi dari Jakarta yang mampir ke sekolah, beliau bilang ini adalah sebuah lingkungan yang menyehatkan sekaligus menyembuhkan atau “Environmental Healing” atau kalau kusebut sebagai pembiasaan menerima, “to acceptance” teman-teman ABK (anak berkebutuhan khusus) maka dengan sendirinya mempengaruhi kecerdasan intra personal anak, inilah inklusif walaupun sejatinya belum sempurna menurut yang seharusnya.

Kembali mengenai paud impianku, semua yang kuceritakan di atas adalah sebuah gambaran besar impianku dimana layanan kelompok bermain yang daku impikan adalah “Kelompok Bermain yang Penuh Cinta”, dalam konsep mengerti, memahami dan menerima (pendidikan inklusi) dan yang menjadi fokus utamanya adalah anak. Memasukkan semua konsep perkembangan melalui sebuah kesenangan yang bermakna dan memiliki lingkungan belajar yang memuaskan semua perangkat stimulasi yaitu indrawi, ramah lingkungan yang aku pahami lebih kepada sekolah alam, dikutip dari seorang filsuf Cina bernama Lao-Tzu “The reality of the building does not consist in the roof and walls, but in the space within to be lived in” membuatku berfikir harusnya tidak sulit jika ingin membuat sekolah, tidak harus membuat ruangan minimal 7 x 7 meter untuk sebuah kelas karena tentu saja akan memerlukan banyak biaya untuk mewujudkannya. Mengapa konsep alam, karena menurutku alam memberikan banyak stimulasi yang bermakna ini kupahami ketika aku diberikan saran agar membawa “Abang Muhammad” anakku untuk ke pantai, sungai, hiking, berjalan di atas rumput, di atas batu, ajak bersepeda, dan banyak lagi. Ini banyak dijelaskan dalam buku yang kubaca, Mengoptimalkan Iq & Eq Anak Melalui Metode Sensomotorik tulisan Ratih Zimmer Gandasetiawan.

Karena bagaimanapun setiap anak itu unik, sehingga kita harus menyiapkan guru dan tenaga pendidik yang unik pula, karena itu sekolahku  mendedikasikan diri memfasilitasi pelatihan Ice Breaker Penyemangat Belajar  bersama Kak Kusumo Suryo Harjuno yang juga menusliskan detail tips dan trik  dalam bukunya 100+ Ice Breaker Penyemangat Belajar, demi menyokong SDM yang segar dalam mengaktualisasikan kreatifitas di PAUD. Secara khusus sekolah akan menyeimbangkan antara jumlah anak berkebutuhan khusus yang masuk dengan kemampuan pendidik.

Seperti saat ini, aku sedang menjalani hal yang tidak berani  kumimpikan yaitu kuliah di PGPAUD, namun ketika kesempatan itu datang untuk mengikuti test beasiswa dengan penuh sukacita aku ikuti dan semoga saja aku berani mengakhirinya dengan sebuah karya yang sesuai dengan mimpiku ini, mengutip pernyataan Bapak Muhammad Dani Wahyudi,MPd “Berani Memulai, Berani Mengakhiri” pada pertemuan P2B di awal perkuliahan.

Mimpiku ini ibarat film berseri, saat ini aku telah memiliki sebuah PAUD di bawah pembinaan Kementerian Agama, Raudhatul Athfal Ulumul Qur’an Al Madani yang didukung oleh Bina Autis Indonesia sebagai tempat terapi bagi ABK yang bersekolah di RA, pada saat ini sedang memulai layanan Taman Penitipan Anak yang juga inklusi,  baru kemudian Kelompok Bermain (KB).

Headline di awal ini menitik beratkan kata BAHAGIA atau HAPPINESS sebagai landasan utama mimpiku, karena menurut drg. Anne Adzkia Indriani pada https://www.islampos.com/anak-harus-bahagia-177779 anak-anakyang bahagia akan mudah menerima dan menyerap beragam informasi yang diterima panca inderanya. Mereka berani untuk mengeluarkan pendapatnya tanpa takut disalahkan. Anak-anak juga memiliki rasa nyaman dan aman, juga merasa diakui dan dihargai. Anak yang bahagia akan mudah menciptakan kreatifitas-kreatifitas dan mampu berpikir jernih. Artinya perasaaan bahagia berbanding lurus dengan selera belajar, seperti yang ditulis Pak Munif Chatib tentang cara kerja otak reptil (sang penjaga) dalam  buku Kelasnya Manusia, yaitu pengendali dunia fisik, jika dapat memuaskan otak reptil maka sang penjaga ini akan membukakan pintu arus informasi menuju ke bagian otak berikutnya, otak reptil akan terpuaskan jika lingkungan fisik disekelilingnya nyaman dilihat dan dirasakan. Itulah sebabnya anak-anak cenderung bermain, karena ia sedang memuaskan otak reptilnya agar dapat menyerap esensi atau makna pembelajaran. Ini berhubungan erat dengan pengelolaan lingkungan belajardalam hal ini adalah bermain yang di dalamnya terdapat unsur profesionalisme guru, dukungan fasilitas dan kebijakan sekolah, serta peran serta orang tua dan masyarakat. Rita Mariyana, MPd dalam bukunya menuliskan guru selain dituntut profesional dalam membangun, mengatur, menata dan mengkreasikan serta memelihara keselamatan lingkungan belajar, juga dituntut mampu menjalin hubungan komunikasi dengan anak untuk meningkatkan selera belajar. Hal itu dapat terjadi jika anak dijadikan sebagai sumber dalam merefleksikan kegiatan di kelompok bermain dan berorientasi pada optimalisasi perkembangan dan belajar (baca bermain) anak serta berpijak pada efesiensi pembelajaran (baca permainan).

Secara penting kita harus menempatkan anak sebagai sejatinya seorang anak bukan sebagai miniatur orang dewasa, ini penting karena disadari atau tidak kita para pendidik sering terjebak dalam labirin emosi karena salah anggapan, bahwa kita hadir sebagai orang dewasa yang memberi tahu kemudian menunggu perubahan, tanpa memberikan teladan dan inspirasi bagi anak-anak kita, mengenai penjelasan ini ada baiknya kita membaca buku 7 Kiat Orangtua Shalih Menjadikan Anak Disiplin dan Bahagia karya Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari. Sesuai judulbuku itu dijelaskan bahwa kita sebagai orang tua harus belajar, dengan diawali muhasabah, kemudian menerapkannya dan membiasakannya, kemudian memeliharanya, maka hal ini berlaku juga untuk para guru, mereka perlu introspeksi, pemahaman, pelatihan dan evaluasi agar tujuan itu juga dapat dilaksanakan di sekolah.

Selain pemahaman normatif, inklusif,berorientasi anak, berbasis sekolah alam, fokus kepada perkembangan sumber daya pendidik, melibatkan orang tua secara masif, PAUD impianku juga pastilah tidak meninggalkan teknologi informasi sebagai teman dalam setiap kegiatannya, setidaknya PAUD impianku tidak akan ketinggalan zaman, jika perlu seperti sedang  dijalankan sekarang ini adalah membuat buku penghubung melalui media sosial yang bisa diakses melalui gadget misalnya, di sekolahku membentuk FSOG (Forum Silaturahmi Orang Tua dan Guru) di Facebook. Setiap guru sekarang ini memiliki gadget android begitu juga orang tua, bagi orang tua yang tidak memiliki tentu akan dibuat buku penghubung seperti biasanya. Sehingga seluruh kegiatan belajar akan didokumentasikan dan dibuatkan catatan digital, orang tua akan merespon cepat karena memang sekarang sedang zamannya media sosial. Mereka akan mengomentari dan juga diberikan ruang untuk memberikan masukkan, Berbagi tips dan trik dalam buku penghubung yang ada di media sosial ini juga menarik agar orang tua juga bisa memperbaharui pemikiran dalam konteks pendidikan. Penggunaan teknologi informasi dikupas secara menarik oleh Christine Wibhowo & Ridwan Sanjaya dalam bukunya berjudul Stimulasi Kecerdasan Anak Menggunakan Teknologi Informasi.

Berdiri sebagai praktisi pada pendidikan inklusi, impianku adalah menerapkan metode montesori dan glend doman yang selama ini sudah akbrab di kepalaku, namun karena peraturan pemerintah yang melarang calistung di PAUD membuatku  urung menjalankannya. Secara ilmiah Glend Doman sudah membuktikan bahwa otak tumbuh karena digunakan, bukan berdasarkan jadwal yang digariskan sebelumnya. Pemahaman tentang metode Glend Doman dan Montesori ini banyak mempengaruhiku karenapengalaman membesarkan anak berkebutuhan khusus. Begitu pula metode montessori yang di temukan oleh Maria Montessori seorang dokter sekaligus pendidik yang fokus kepada anak-anak dengan hambatan. Menurut Maria, anak-anak akan mengalami suatu masa yang disebut masa peka, yaitu masa di mana anak mencapai kematangan tertentu. Hal ini sangat penting, sebab menjadi modal anak untuk belajar.

Penting bagi mewujudkan mimpi ini adalah menularkan pemahaman yang sama pada pendidik yang artinya memberikan bekal yang beragam diluar sumber-sumber dari pemerintah (menurutku), jika disampaikan secara masif, berkesinambungan dan tanpa iming-iming kredit dan kenaikan pangkat, maka pendidik dapat lebih percaya diri dalam mengaktualisasikan dirinya.

Inilah mimpiku, semoga dengan penjabaran diluar kapasitasku di lingkup pendidikan ini bisa memperkaya khasanah dan memberikan keberanian bagi ibu ABK di luar sana untuk berbuat lebih dari yang mereka fikirkan.

Tinggalkan komentar