Menjadi seorang yang berkebutuhan khusus bagaikan menikmati sebuah pameo “bukan salah ibu mengandung” namun nyatanya masih banyak ditemukan bahwa setiap pribadi merasa khusus dalam sebuah “kebanggaan semu” dan merasa layak dalam kapasitas “mainstream”.

Setuju atau tidak sebagai seorang makhluk, dalam setiap jengkal rasa sama yang kita miliki, terkandung banyak perbedaan yang mengarah pada sebuah makna “khusus” atau “unik”. Namun seorang yang lain akan tercengang kepada sebuah perwujudan kelebihan atau kekurangan semata.

Dalam sebuah rentang umur bumi dan peradaban manusia yang sudah tua ini, banyak kejadian dan peristiwa yang bersumber dari ulah manusia yang menelanjangi bahkan memperkosa bumi ini dengan semena-mena, sehingga terlahir sebuah ketimpangan dan anomali hayati, yang kemudian menjadi bahan ejekan tak berkesudahan dengan sebutan gila, sinting, edan, atau kerennya schizophrenia, dihaluskan menjadi hilang ingatan sampai dengan autis dan kemudian tuna grahita (bukan berarti lantas saya menyamakan maksud kata-kata tsb) namun anda pasti sudah bisa membaca fikiran saya.

Bagaimana dengan jumlah mereka ? baca ini http://www.merdeka.com/peristiwa/di-indonesia-ada-18-ribu-penderita-gangguan-jiwa-berat-dipasung.html dan bagaimana mereka diperlakukan. Jika dibandingkan dengan nasib sampah dalam pengertian yang sebenarnya, maka kemudian sampah akan didaur ulang, namun bagaimana dengan mereka ?? baca ini https://cisini.wordpress.com/2013/06/28/nasib-orang-sakit-jiwa-di-indonesia/ bagaimana menurut anda ?

Jika tulisan saya di atas mengusik anda, sepertinya saya menyamakan orang gila dengan orang autis, begitukah ? Saya tentu tidak, namun kenyataan memberikan fakta berbeda, benarkah ? baca ini http://dindalalala.blogspot.com/2009/02/penyebab-autisme-gila.html lebih nyantai bisa baca ini http://hoedamanis.blogspot.com/2015/04/autis-ayan-gila.html . Pertumbuhan angka kejadian autisme yang menimpa anak dan sekarang menjadi remaja, bahkan mungkin sudah ada dewasa dengan autistic bukan sesuatu yang bisa kita remehkan, baca saja tabloid atau majalah kesehatan seberapa sering mereka menjadi bahan artikel bahkan penelitian dan sekarang banyak buku-buku yang membahas tentang mereka. Sementara ini perbedaan yang mencolok adalah jika autism itu menerpa anak dari keluarga miskin,maka sangat mungkin mereka bisa menjadi benar-benar “gila”. Ketidakmampuan, kebodohan bahkan keputusasaan akan menjadi embel-embel sempurna dari sebuah ketidakberdayaan mereka. Ini menarik dibaca http://hukum.kompasiana.com/2012/07/06/di-balik-pasal-34-1-uud-1945-475923.html. Lalu apa yang dihadapi oleh seorang autistic yang miskin ? menunggu dipelihara negarakah mereka ? mungkin anda bisa membantu menjawabnya.

Tidak usah berpanjang lebar jika kita bicara pasal 34 UUD 1945, karena dilapangan sangat jelas terlihat bahwa negara gagal menepati kewajiban konstitusionalnya, jika ada yang tidak setuju, silakan berkomentar. Lantas siapa kemudian yang akan kita tanyai mengenai nasib orang tidak berdaya ini, boleh jadi adalah perusahaan milik miliarder, atau perusahaan asing atau perusahaan allien ?? http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/26665-pengusaha_minta_kewajiban_csr_dicabutSiapa saja yang dibantu CSR, baca ini http://ramadhanaga.blogspot.com/2013/10/pengertian-csr-manfaat-bagi-masyarakat.html. Kemana CSR disalurkan ? baca http://w.108jakarta.com/csr/2012/12/21/103/Program-DKI-Banyak-Dibantu-Dana-CSR-

Jadi kemana alurnya ? gak jelas lah.

Menurut saya, jika kewajiban negara yang termaktub pada pasal 34 uud 1945 itu tidak serta merta dirasakan oleh rakyat, apatah lagi rakyat yang dimaksud itu adalah mereka yang berkebutuhan khusus, lantas mereka layaknya dipelihara oleh siapa dan bagaimana ? Saya harus menyiapkan diri untuk ini http://health.detik.com/read/2012/04/15/100023/1892704/763/anak-autis-lebih-pelik-dan-berat-hadapi-masa-remaja. Dan bila saya harus lebih dahulu meninggalkan dunia ini apakah saya harus berharap negara menepati janjinya untuk menolong anak autis saya, setidaknya saya berkeyakinan bahwa negara bertanggung jawab menciptakan lingkungan yang inklusif bagi ABK (baca anak berkebutuhan khusus) yang saya tinggalkan. Lalu apakah mungkin kelahiran seorang autistik atau ABK bisa diprediksikan lalu bagaimana cara mencegahnya, dan apakah kemungkinan itu bisa terjadi pada siapa saja ? Tentu saja jawabnya iya bukan ?. Jadi bagi anda dan siapa saja yang masih bisa menikmati kehidupan di dunia yang tua ini akan sangat bisa memiliki ABK, jikalau menemui ABK itu sudah dapat dipastikan karena jumlah mereka setiap waktu bertambah.

Jadi dimanakah konsep salah asuhan itu menurut saya….? yaitu adalah dimana sumber-sumber keuangan negara tidak terdistribusikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan, negara jarang sekali mengevaluasi sebuah program sosial, dan memonitoring siapakah atau rakyat yang manakah yang belum mendapatkan hak-haknya sesuai dengan UUD 1945. Yang terjadi adalah pemborosan dan pengulangan program tanpa evaluasi dan monitoring yang jelas http://jdih.ristek.go.id/?q=berita/dana-bantuan-koruptor atau di sini http://ehibahbansos.bantenprov.go.id/index.php?r=home/ProfilBansos

So come on, berfikir dan bertindaklah lebih inklusif, karena sesungguhnya kita rakyat normal ini berdaya karena ada yang tidak normal.

Salam peduli Anak Berkebutuhan Khusus

Tinggalkan komentar