Kata inklusi atau inklusif bagiku hampir tidak kukenali sama sekali, yang sering aku dengar hanyalah kata ekslusif saja, namun hampir 10 tahun kata bahkan dunia inklusi menanamkan benih pengertian di dalam hatiku, tumbuh dan bersemi, berakar dan mulai menjulang bersama tumbuh dan berkembangnya seorang anak laki-laki pertamaku yang bernama Muhammad.
Tentu saja begitu karena dia (abang) panggilannya, membuatku mencari arti tentang apa yang aku alami bersamanya setiap hari, dia yang aku lahirkan hampir dalam keadaan tidak bernyawa dan aku besarkan dalam kondisi yang berbeda dari semua aspek. Walaupun begitu aku tetap yakin dan percaya bahwa dia pasti hadir bersama sebuah hikmah, yang harus aku temukan secepatnya agar bersamanyalah kami bisa berarti dan memberi arti bagi sekitar kami.
Pandangan yang berbeda terhadap anakku abang membuat aku pun tumbuh dalam motivasi yang berbeda, berjuang dengan cara yang berbeda dan akhirnya bersama mereka yang berbeda berusaha menyatukan perbedaan yang ada, mustahil tadinya aku pandang begitu, tapi terbiasa menerima perbedaan membuatku menyenangi sebuah dunia baru yang dikenal dengan dunia pendidikan inklusi.
Bukan tanpa air mata, cibiran, dan persangkaan buruk, namun bagiku itu adalah sebuah tantangan dan dengan segala usaha dan fokus pada perjuangan akhirnya apa yang diinginkan terwujud satu-persatu. Mulai dari pemahaman akan tumbuh kembang anak dengan kebutuhan khusus, penerimaan lingkungan, sosialisasi bertahap akan keberadaan ABK, hingga mendirikan sebuah tempat terapi dan akhirnya mendirikan sebuah sekolah dalam setting inklusif.
Tuhan memang tidak pernah tidur, namun Dia juga memiliki rencana agar setiap makhluknya dikuatkan dengan segala kondisi yang ada. Terima kasih atas anugerah terindah-Mu ya Rabb, mampukan kami selalu untuk membuatnya nyaman menghadapi dunia ini menuju hakikat makhluk-Mu yang sejati.