“Dalam Panggung Pura-pura”

Ketika periuk-periuk nasi sudah dilirik

Aroma basipun tak menghambat ambisi

Nafsu eksistensi ekslusif kecintaan diri

Perut-perut lapar milik dia-dia lagi

Benar disana ada dia, dia, sipolos hati

Penggenap keinginan melebihi porsi

Mereka bicara citra ,tapi lupa berkaca diri

Memberi tapi berharap kembali

Transaksipun memenuhi pasar janji-janji

Yang entah kapan ditepati, dipenuhi atau bahkan didustai

Panggung tentang seribu kebaikanpun digelar setiap hari

Siang, malam, orasi, jual diri dan mencaci

Aku dan mungkin penonton lain, hanya mengamati

Terkadang tergoda dengan skenario hebat berakhir sepi

Ah sudahlah, aku mempersilakan apatis menghampiri

Membawa melayang-layang menuju padang sepi


Banjarbaru Tanah Banyuku

20 Mei 2023

Tinggalkan komentar