Sekolah Rakyat: Pintu Baru, Tapi Apakah Terbuka untuk Semua?
Saya membaca kabar itu dengan antusias. Tentang Sekolah Rakyat—sebuah ruang belajar baru yang akan dibuka oleh Kementerian Sosial mulai April 2025. Ada seleksi guru dan murid. Ada semangat Pancasila. Ada cita-cita membangun harapan bagi yang tertinggal.
Tapi di tengah semangat itu, saya terdiam sejenak. Lalu muncul satu pertanyaan dalam benak saya:
Apakah pintu Sekolah Rakyat juga terbuka untuk anak-anak yang memakai tongkat putih, duduk di kursi roda, atau berbicara dengan cara yang berbeda?
Pendidikan yang Adil Bukan Hanya Soal Akses, Tapi Juga Akomodasi
Saya mengajar di sekolah inklusif. Saya menyaksikan bagaimana anak-anak dengan latar belakang, cara berpikir, dan kemampuan yang berbeda belajar bersama dalam satu ruang. Tidak selalu mudah. Tapi selalu bermakna.
Mereka tidak minta dikasihani. Mereka hanya minta dimengerti. Tapi mengerti saja tidak cukup, jika sistem tidak memberi tempat.
Ketika saya membaca bahwa murid Sekolah Rakyat akan diseleksi, saya bertanya: Seleksi seperti apa? Apakah sistemnya fleksibel? Apakah memberi ruang untuk anak yang tidak kuat membaca, tapi sangat jago dalam menggambar?
Apakah anak dengan down syndrome harus bersaing dalam jalur yang sama, tanpa ada afirmasi?Kalau jawabannya tidak, maka pintu Sekolah Rakyat bisa jadi pintu sempit, bukan pintu terbuka.
Semangatnya Mulia, Tapi Jangan Jadi Jalur Paralel yang Tak Inklusif
Pendidikan inklusif adalah semangat untuk menyatukan. Bahwa sekolah bukan hanya tempat bagi yang siap, tapi tempat untuk menyiapkan semua.
Ketika Sekolah Rakyat berdiri berdampingan dengan sekolah formal, ada risiko: Bahwa anak-anak miskin, yang tidak lulus seleksi formal, akan “dialihkan” ke Sekolah Rakyat. Lalu bagaimana dengan anak-anak miskin yang juga difabel?
Apakah mereka punya dua lapis kerentanan yang membuat mereka justru tidak punya tempat di mana-mana?
Harapan: Sekolah Rakyat yang Benar-Benar Rakyat
Saya percaya, Sekolah Rakyat bisa jadi harapan baru. Asalkan tidak hanya memikirkan siapa yang bisa masuk, tapi juga bagaimana semua bisa belajar.
Bayangkan jika Sekolah Rakyat dirancang dengan pendekatan:
✅ Pembelajaran berbasis pengalaman nyata ✅ Fasilitas yang fleksibel ✅ Guru yang punya empati dan pelatihan dasar disabilitas ✅ Lingkungan yang menghargai proses, bukan hanya hasil
Maka Sekolah Rakyat bisa jadi oase, bukan hanya untuk yang tertinggal secara ekonomi, tapi juga yang tertinggal karena sistem belum cukup ramah untuk mereka.
Menutup dengan Doa Kecil
Saya bukan siapa-siapa. Hanya seorang guru yang melihat betapa anak-anak dengan kebutuhan khusus bisa bersinar jika diberi ruang. Saya hanya ingin memastikan, bahwa dalam langkah besar yang sedang kita bangun, tidak ada anak yang kembali ditinggal.
Karena sekolah yang sejati adalah rumah belajar untuk semua. Termasuk mereka yang butuh lebih banyak waktu, lebih banyak pelukan, dan lebih banyak pengertian.