Pelita Kecil dalam Prosesi Agung: Belajar Inklusi dari Abdi Dalem Palawija

Aku datang ke Keraton Yogyakarta dengan prasangka—sebuah pikiran yang kini membuatku menunduk haru. Dalam bayanganku, para abdi dalem palawija—orang-orang dengan kondisi fisik yang berbeda seperti bertubuh kecil, albino, atau membungkuk—hanyalah pelengkap eksotis dari sebuah tradisi besar. Mungkin sekadar pajangan budaya, bukan tokoh utama dalam perjalanan makna.

Tapi, aku salah.

Aku salah menilai mereka dari jauh. Aku salah menafsirkan kehadiran mereka hanya dari lensa teori othering, yang sering kali membuat kita menganggap yang berbeda sebagai “yang lain”, yang tidak utuh, tidak sepenuhnya dianggap bagian. Aku datang dengan pikiran “mereka dipinggirkan”, tapi pulang dengan hati yang penuh hormat dan terharu.

Bukan Pajangan, Tapi Penjaga Makna

Di keraton, aku mendengar cerita tentang para abdi dalem palawija dari para juru kunci dan pemandu budaya. Mereka bukan hanya hadir, tapi juga dilibatkan secara penuh dalam upacara-upacara besar. Mereka membawa perlengkapan suci, ikut mengiringi raja, bahkan menjadi tanda dimulainya prosesi yang sakral.

Dalam tradisi Jawa, orang-orang yang memiliki keunikan fisik kerap diyakini memiliki kekuatan spiritual, atau linuwih. Mereka bukan dikasihani. Mereka dihormati.

Seketika, pikiranku yang semula dipenuhi teori tentang marginalisasi, runtuh oleh kenyataan yang lebih halus dan dalam: bahwa inklusi bukan tentang “membiarkan yang lain hadir”, tapi tentang memberikan makna pada kehadiran mereka.

Pelita Kecil dalam Prosesi Besar

Mereka adalah pelita kecil dalam prosesi agung. Tak menyilaukan. Tak berada di tengah sorotan. Tapi tanpanya, arah akan hilang. Cahaya mereka menjadi penanda jalan. Menjadi penjaga sakralitas. Mereka bukan pelengkap. Mereka adalah esensi yang tersembunyi, tapi tak tergantikan.

Aku malu pernah berpikir mereka hanya menjadi bagian dari masa lalu. Aku terharu bahwa budaya yang kupikir feodal justru memuliakan bentuk manusia yang berbeda, bahkan dalam diam.

Mereka bertubuh mungil, tapi memikul makna besar. Di balik pakaian adat dan tatapan diam, tersimpan warisan pengabdian dan penghormatan atas keberagaman manusia.

Refleksi untuk Kita Semua

Hari ini, di sekolah, di rumah, dan di masyarakat kita—masih adakah pelita-pelita kecil yang kita abaikan?
Masih adakah anak-anak yang kita biarkan di sudut kelas karena ia tak bisa membaca secepat yang lain?
Masih adakah rekan kerja yang tak kita libatkan hanya karena cara bicaranya tak sefasih yang lain?

Mungkin kita perlu belajar dari keraton. Bahwa kesetaraan bukan tentang membuat semua orang sama, tapi tentang mengakui bahwa perbedaan membawa makna.
Bahwa yang kecil bisa menjadi penanda. Yang sunyi bisa menjadi penjaga. Dan yang sering disebut “lain” sesungguhnya adalah bagian dari kita sendiri.

Cahaya Itu Ada di Sekitar Kita

Di antara anak-anak dengan kebutuhan khusus yang diam-diam menyimak.
Di antara siswa yang tidak pernah tampil tapi selalu menyelesaikan tugas temannya.
Di antara pelita-pelita kecil yang tak bersuara, tapi menyala.

Mari kita jaga mereka. Mari kita beri tempat. Bukan karena kasihan. Tapi karena kita tahu—tanpa mereka, prosesi besar kehidupan ini tak akan utuh.

Inklusi sejati bukan tentang menyatukan semua suara menjadi satu nada, tapi tentang merayakan harmoni dari suara-suara yang berbeda.

Jika kamu percaya bahwa inklusi adalah jalan masa depan, yuk mulai dari kelasmu.
Dari tatapanmu. Dari pilihan katamu.
Siapa tahu, pelita kecil yang kamu beri ruang hari ini—adalah cahaya masa depan yang kita butuhkan bersama.

Tinggalkan komentar