Memahami Kesiapan Belajar Anak: Apa yang Perlu Diketahui Orangtua?

Memasuki dunia pendidikan formal adalah salah satu langkah penting dalam kehidupan seorang anak. Sebagai orangtua, tentu kita ingin memastikan bahwa anak kita siap menghadapi tantangan dan pengalaman baru di sekolah dasar. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kesiapan belajar anak? Kesiapan belajar tidak hanya mencakup aspek akademis, tetapi juga perkembangan emosional, sosial, dan fisik. Dalam blog ini, kita akan membahas berbagai faktor yang mempengaruhi kesiapan anak untuk belajar dan bagaimana orangtua dapat berperan aktif dalam mempersiapkan anak mereka. Dengan pemahaman yang mendalam tentang kesiapan belajar, orangtua dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan memfasilitasi proses belajar anak, sehingga mereka dapat memasuki sekolah dengan percaya diri dan semangat. Mari kita eksplorasi lebih lanjut tentang langkah-langkah konkret yang dapat diambil orangtua untuk membantu anak meraih keberhasilan di awal perjalanan pendidikan mereka.

Pertama-tama, penting bagi orangtua untuk mengenali bahwa kesiapan belajar anak terdiri dari beberapa komponen. Salah satu aspek utama adalah kemampuan kognitif, yang mencakup kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan memahami konsep dasar seperti angka dan huruf. Orangtua dapat mendukung perkembangan ini dengan menyediakan lingkungan yang kaya stimulasi, seperti membaca buku bersama, bermain permainan edukatif, dan mendorong anak untuk bertanya tentang dunia di sekitarnya. Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan anak, tetapi juga membangun rasa ingin tahunya yang akan sangat berguna saat memasuki sekolah.

Selain aspek kognitif, kesiapan sosial dan emosional juga sangat penting. Anak yang siap secara sosial mampu berinteraksi dengan teman sebaya, bekerja dalam kelompok, dan memahami norma-norma sosial. Dalam hal ini, orangtua dapat berperan dengan mengajarkan anak keterampilan sosial, seperti berbagi, bergiliran, dan berkomunikasi dengan baik. Mengajak anak berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, seperti bermain di taman atau mengikuti kelas seni, dapat membantu mereka berlatih keterampilan ini. Kesiapan emosional, di sisi lain, berkaitan dengan kemampuan anak untuk mengelola perasaan dan menghadapi tantangan. Orangtua perlu memberikan dukungan emosional yang kuat agar anak merasa aman dan percaya diri saat menghadapi lingkungan baru di sekolah.

Selanjutnya, orangtua juga perlu memperhatikan kesiapan fisik anak. Kemandirian dalam hal kebersihan pribadi, seperti mencuci tangan, menggunakan toilet, dan berpakaian sendiri, adalah beberapa contoh keterampilan dasar yang perlu dimiliki anak sebelum masuk SD. Selain itu, kesehatan fisik yang baik juga berkontribusi pada kesiapan belajar. Orangtua harus memastikan anak mendapatkan nutrisi yang cukup, tidur yang berkualitas, dan aktivitas fisik yang memadai. Dengan membangun kebiasaan sehat sejak dini, orangtua dapat membantu anak memiliki energi dan fokus yang diperlukan untuk belajar di sekolah.

“Suasana asesmen kesiapan belajar yang menyenangkan di kelas TK! Guru mendampingi setiap langkah anak untuk tumbuh dan siap menghadapi dunia sekolah.”

Satu aspek yang sering diabaikan dalam persiapan anak masuk SD adalah pengenalan terhadap lingkungan sekolah itu sendiri. Mengajak anak untuk berkunjung ke sekolah sebelum hari pertama mereka dapat membantu mengurangi kecemasan dan memberikan gambaran yang jelas tentang apa yang akan mereka hadapi. Dalam kunjungan ini, orangtua dapat menjelaskan berbagai kegiatan yang akan dilakukan di sekolah, memperkenalkan anak pada guru, dan menunjukkan ruang kelas. Kegiatan ini tidak hanya membuat anak merasa lebih nyaman, tetapi juga membangun antusiasme mereka untuk memulai perjalanan pendidikan yang baru.

Terakhir, penting bagi orangtua untuk berkomunikasi secara terbuka dengan anak mengenai harapan dan kekhawatiran mereka tentang sekolah. Diskusi ini dapat membantu anak merasa didengar dan dipahami, serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka tentang transisi ini. Dengan membangun komunikasi yang baik, orangtua dapat menciptakan suasana yang mendukung bagi anak, sehingga mereka merasa siap dan bersemangat untuk memasuki dunia pendidikan formal. Melalui persiapan yang matang dan dukungan yang konsisten, orangtua dapat memainkan peran yang signifikan dalam memastikan anak-anak mereka siap untuk sukses di sekolah dasar.

Pelita Kecil dalam Prosesi Agung: Belajar Inklusi dari Abdi Dalem Palawija

Aku datang ke Keraton Yogyakarta dengan prasangka—sebuah pikiran yang kini membuatku menunduk haru. Dalam bayanganku, para abdi dalem palawija—orang-orang dengan kondisi fisik yang berbeda seperti bertubuh kecil, albino, atau membungkuk—hanyalah pelengkap eksotis dari sebuah tradisi besar. Mungkin sekadar pajangan budaya, bukan tokoh utama dalam perjalanan makna.

Tapi, aku salah.

Aku salah menilai mereka dari jauh. Aku salah menafsirkan kehadiran mereka hanya dari lensa teori othering, yang sering kali membuat kita menganggap yang berbeda sebagai “yang lain”, yang tidak utuh, tidak sepenuhnya dianggap bagian. Aku datang dengan pikiran “mereka dipinggirkan”, tapi pulang dengan hati yang penuh hormat dan terharu.

Bukan Pajangan, Tapi Penjaga Makna

Di keraton, aku mendengar cerita tentang para abdi dalem palawija dari para juru kunci dan pemandu budaya. Mereka bukan hanya hadir, tapi juga dilibatkan secara penuh dalam upacara-upacara besar. Mereka membawa perlengkapan suci, ikut mengiringi raja, bahkan menjadi tanda dimulainya prosesi yang sakral.

Dalam tradisi Jawa, orang-orang yang memiliki keunikan fisik kerap diyakini memiliki kekuatan spiritual, atau linuwih. Mereka bukan dikasihani. Mereka dihormati.

Seketika, pikiranku yang semula dipenuhi teori tentang marginalisasi, runtuh oleh kenyataan yang lebih halus dan dalam: bahwa inklusi bukan tentang “membiarkan yang lain hadir”, tapi tentang memberikan makna pada kehadiran mereka.

Pelita Kecil dalam Prosesi Besar

Mereka adalah pelita kecil dalam prosesi agung. Tak menyilaukan. Tak berada di tengah sorotan. Tapi tanpanya, arah akan hilang. Cahaya mereka menjadi penanda jalan. Menjadi penjaga sakralitas. Mereka bukan pelengkap. Mereka adalah esensi yang tersembunyi, tapi tak tergantikan.

Aku malu pernah berpikir mereka hanya menjadi bagian dari masa lalu. Aku terharu bahwa budaya yang kupikir feodal justru memuliakan bentuk manusia yang berbeda, bahkan dalam diam.

Mereka bertubuh mungil, tapi memikul makna besar. Di balik pakaian adat dan tatapan diam, tersimpan warisan pengabdian dan penghormatan atas keberagaman manusia.

Refleksi untuk Kita Semua

Hari ini, di sekolah, di rumah, dan di masyarakat kita—masih adakah pelita-pelita kecil yang kita abaikan?
Masih adakah anak-anak yang kita biarkan di sudut kelas karena ia tak bisa membaca secepat yang lain?
Masih adakah rekan kerja yang tak kita libatkan hanya karena cara bicaranya tak sefasih yang lain?

Mungkin kita perlu belajar dari keraton. Bahwa kesetaraan bukan tentang membuat semua orang sama, tapi tentang mengakui bahwa perbedaan membawa makna.
Bahwa yang kecil bisa menjadi penanda. Yang sunyi bisa menjadi penjaga. Dan yang sering disebut “lain” sesungguhnya adalah bagian dari kita sendiri.

Cahaya Itu Ada di Sekitar Kita

Di antara anak-anak dengan kebutuhan khusus yang diam-diam menyimak.
Di antara siswa yang tidak pernah tampil tapi selalu menyelesaikan tugas temannya.
Di antara pelita-pelita kecil yang tak bersuara, tapi menyala.

Mari kita jaga mereka. Mari kita beri tempat. Bukan karena kasihan. Tapi karena kita tahu—tanpa mereka, prosesi besar kehidupan ini tak akan utuh.

Inklusi sejati bukan tentang menyatukan semua suara menjadi satu nada, tapi tentang merayakan harmoni dari suara-suara yang berbeda.

Jika kamu percaya bahwa inklusi adalah jalan masa depan, yuk mulai dari kelasmu.
Dari tatapanmu. Dari pilihan katamu.
Siapa tahu, pelita kecil yang kamu beri ruang hari ini—adalah cahaya masa depan yang kita butuhkan bersama.

Menjadi Guru yang Ramah Autisme: Refleksi di Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2025

2 April 2025 kembali mempertemukan dunia dalam peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia. Tahun ini, tema global yang diangkat adalah:
“Meningkatkan Aksesibilitas dan Keterlibatan dalam Masyarakat bagi Penyandang Autisme.”

Bagi kita yang mengabdikan diri sebagai guru inklusif, momen ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan untuk kembali merefleksikan:

Sudahkah saya menjadi guru yang benar-benar ramah bagi anak dengan autisme?

Autisme dan Tantangan di Ruang Kelas

Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sering kali menunjukkan cara belajar, berkomunikasi, atau berperilaku yang berbeda. Bukan karena mereka tidak ingin belajar, tapi karena sistem pendidikan kita belum sepenuhnya siap menerima cara belajar yang beragam.

Sebagai guru, kita sering menghadapi dilema: kurikulum harus dikejar, target pembelajaran harus tercapai, dan di saat yang sama, kita punya anak autistik yang lebih nyaman menyendiri, butuh waktu lebih lama memproses instruksi, atau sensitif terhadap suara keras.

Lebih nyaman menyendiri bukan berarti tak ingin belajar—mereka hanya butuh ruang yang aman untuk jadi diri sendiri. (sumber: pixabay)

Namun, inilah tantangan sekaligus peluang: mampukah kita menyusun strategi agar mereka tidak sekadar hadir, tetapi juga merasa diikutsertakan?


Langkah Kecil yang Bermakna Besar

Menjadi guru inklusif tidak harus langsung mahir segalanya. Tapi kita bisa mulai dari langkah-langkah kecil seperti:

  1. Menggunakan struktur visual: Anak dengan autisme lebih mudah memahami jadwal atau instruksi jika disajikan secara visual.
  2. Membuat rutinitas yang konsisten: Perubahan mendadak bisa membuat mereka cemas. Konsistensi memberi rasa aman.
  3. Memberi waktu tambahan saat mengerjakan tugas: Kecepatan bukan tolak ukur keberhasilan. Yang penting adalah proses belajarnya.
  4. Mengenali pemicunya: Suara lonceng, keramaian, atau sentuhan fisik bisa menjadi pemicu stres. Guru bisa menciptakan alternatif strategi untuk mengurangi kejutan sensorik.
  5. Berkomunikasi dengan keluarga dan tim psikolog/terapis: Kolaborasi adalah kunci untuk memahami latar belakang dan kebutuhan khusus setiap anak.

Menumbuhkan Budaya Kelas yang Inklusif

Kelas yang ramah autisme bukan hanya tentang pendekatan guru, tapi juga suasana yang diciptakan bersama.
Libatkan teman sebaya dalam membangun empati. Ajarkan bahwa berbeda itu tidak salah. Buat forum kecil, dongeng, atau diskusi santai tentang keberagaman cara berpikir dan belajar.

Karena inklusi sejati tidak lahir dari belas kasihan, tapi dari rasa hormat dan penerimaan.


Refleksi untuk Kita, Para Pendidik

Hari Kesadaran Autisme Sedunia bukan hanya untuk merayakan keberagaman, tetapi juga menggugah kita untuk memperbaiki sistem belajar yang belum ramah bagi semua. Guru adalah ujung tombak perubahan itu.

Di guruinklusif.com, kita percaya bahwa tidak ada anak yang gagal belajar—yang ada sistem yang belum cukup fleksibel untuk menjangkau semua anak.

Mari kita terus belajar, membuka hati, dan menjadi ruang aman bagi setiap anak, termasuk mereka yang hidup dalam spektrum autisme.


Penutup

Selamat Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2025.
Untuk semua guru yang bersungguh-sungguh menciptakan ruang inklusi—kalian adalah bagian dari harapan besar bagi masa depan yang lebih adil dan manusiawi.

10 Keterampilan Penting yang Harus Dimiliki Guru Inklusif

Pendidikan inklusif adalah pendekatan yang menempatkan semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), dalam satu lingkungan belajar yang sama. Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa kita adalah ujung tombak dalam memastikan bahwa setiap anak mendapatkan haknya untuk belajar secara optimal. Namun, saya pun menyadari bahwa menjadi guru inklusif bukan sekadar tentang tahu teori—tetapi tentang memiliki hati, kesiapan, dan keterampilan yang terus diasah.

Yuk, mari kita membahas 10 keterampilan utama yang menurut saya wajib dimiliki oleh guru inklusif. Keterampilan ini saya pelajari dari pengalaman di lapangan, diskusi bersama rekan sejawat, serta didukung oleh panduan dari UNESCO (2009), dan penelitian dari Florian dan Rouse (2009), serta Sharma, Loreman, dan Forlin (2012).

1. Empati Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan, pikiran, dan perspektif siswa. Dalam keseharian, saya sering merasa bahwa empati menjadi jembatan antara tantangan dan solusi. Guru inklusif perlu melihat dunia dari sudut pandang siswa, terutama siswa dengan hambatan belajar atau sosial. Empati membangun hubungan saling percaya antara guru dan siswa (Florian & Rouse, 2009).

2. Kesabaran Mengajar di kelas inklusif memang menguji kesabaran. Setiap siswa memiliki kecepatan belajar yang berbeda, dan kita perlu memberikan waktu dan dukungan yang sesuai tanpa frustrasi atau kelelahan emosional (UNESCO, 2009). Saya belajar bahwa sabar bukan berarti lambat, tapi siap menyesuaikan ritme.

3. Komunikasi Efektif Kemampuan berkomunikasi yang hangat dan jelas sangat dibutuhkan, baik dengan siswa, orang tua, maupun tim pendukung seperti GPK. Saya sendiri merasa bahwa komunikasi yang terbuka bisa menjadi solusi banyak kesalahpahaman yang sering terjadi.

4. Kemampuan Adaptasi Tidak ada pendekatan “satu untuk semua” di kelas inklusif. Fleksibilitas menjadi kunci. Dalam beberapa kasus, saya harus mengubah metode mengajar secara spontan agar bisa lebih efektif (Sharma et al., 2012).

5. Penguasaan Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Kelas inklusif menuntut variasi dalam cara penyampaian materi. Saya biasanya mengelompokkan siswa berdasarkan kebutuhan dan menggunakan media yang beragam untuk mempermudah pemahaman (UNESCO, 2009).

6. Observasi dan Dokumentasi Kemampuan observasi ini membantu saya mengenali kemajuan atau sinyal bahwa seorang siswa membutuhkan dukungan tambahan. Dokumentasi sederhana pun sangat bermanfaat saat berdiskusi dengan orang tua atau tim sekolah (Sharma et al., 2012).

7. Kolaborasi Saya percaya bahwa pendidikan inklusif tidak bisa dijalankan sendiri. Kerja sama dengan GPK, orang tua, kepala sekolah, bahkan teman sejawat sangat membantu dalam menciptakan dukungan menyeluruh untuk siswa (Florian & Rouse, 2009).

8. Manajemen Kelas yang Responsif Manajemen kelas bukan sekadar soal aturan, tapi juga soal menciptakan ruang aman. Saya selalu mencoba membangun rutinitas dan sistem yang memberikan rasa aman, terutama bagi siswa yang mudah cemas atau sensitif terhadap perubahan.

Guru PJOK dengan pembelajaran adaptif
“Guru inklusif sedang mengajar siswa beragam kemampuan”

9. Refleksi Diri dan Pengembangan Profesional Setelah setiap semester (bahkan setiap minggu!), saya terbiasa menuliskan apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Kegiatan refleksi ini saya kombinasikan dengan mengikuti pelatihan atau bergabung dalam komunitas guru untuk terus berkembang.

10. Komitmen terhadap Inklusi dan Hak Anak Keterampilan terakhir ini tidak bisa diajarkan, tapi harus diyakini. Saya pribadi meyakini bahwa semua anak berhak belajar, berkembang, dan dihargai di kelas—apa pun latar belakang dan keunikannya (UNESCO, 2009).

Penutup Menjadi guru inklusif bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang terus belajar dan berkembang untuk melayani semua siswa sebaik mungkin. Saya pun masih belajar, dan saya yakin kita semua di komunitas guru memiliki potensi untuk menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

Dengan menguasai 10 keterampilan ini, kita bisa membangun ruang kelas yang tidak hanya mendidik, tetapi juga memanusiakan. Unduh checklist keterampilan guru inklusif versi PDF di bawah artikel ini dan mulai perjalanan profesional Anda hari ini!

Referensi

Florian, L., & Rouse, M. (2009). The inclusive practice project in Scotland: Teacher education for inclusive education. Teaching and Teacher Education, 25(4), 594–601. https://doi.org/10.1016/j.tate.2009.02.003

Sharma, U., Loreman, T., & Forlin, C. (2012). Measuring teacher efficacy to implement inclusive practices. Journal of Research in Special Educational Needs, 12(1), 12–21. https://doi.org/10.1111/j.1471-3802.2011.01200.x

UNESCO. (2009). Policy guidelines on inclusion in education. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000177849

💛 Yuk, Jadi Guru Inklusif yang Lebih Siap!
Dapatkan PDF dan checklist refleksi yang bisa dicetak.

Terima kasih telah berkunjung ke guruinklusif.com!
Isi formulir singkat ini, dan kami akan mengirimkan:
✔️ Panduan PDF “10 Keterampilan Guru Inklusif”
✔️ Checklist 1 halaman reflektif
✔️ Update mingguan berisi tips & pelatihan guru inklusif

💌 File akan langsung dikirim ke email Anda setelah formulir dikirim.

← Back

Pesan Anda telah terkirim

Peringatan
Peringatan
Peringatan!

Sekolah Rakyat: Pintu Baru, Tapi Apakah Terbuka untuk Semua?

Saya membaca kabar itu dengan antusias.
Tentang Sekolah Rakyat—sebuah ruang belajar baru yang akan dibuka oleh Kementerian Sosial mulai April 2025.
Ada seleksi guru dan murid. Ada semangat Pancasila. Ada cita-cita membangun harapan bagi yang tertinggal.

Tapi di tengah semangat itu, saya terdiam sejenak.
Lalu muncul satu pertanyaan dalam benak saya:

Apakah pintu Sekolah Rakyat juga terbuka untuk anak-anak yang memakai tongkat putih, duduk di kursi roda, atau berbicara dengan cara yang berbeda?

Pendidikan yang Adil Bukan Hanya Soal Akses, Tapi Juga Akomodasi

Saya mengajar di sekolah inklusif.
Saya menyaksikan bagaimana anak-anak dengan latar belakang, cara berpikir, dan kemampuan yang berbeda belajar bersama dalam satu ruang. Tidak selalu mudah. Tapi selalu bermakna.

Mereka tidak minta dikasihani. Mereka hanya minta dimengerti.
Tapi mengerti saja tidak cukup, jika sistem tidak memberi tempat.

Ketika saya membaca bahwa murid Sekolah Rakyat akan diseleksi, saya bertanya:
Seleksi seperti apa? Apakah sistemnya fleksibel? Apakah memberi ruang untuk anak yang tidak kuat membaca, tapi sangat jago dalam menggambar?

Apakah anak dengan down syndrome harus bersaing dalam jalur yang sama, tanpa ada afirmasi?Kalau jawabannya tidak, maka pintu Sekolah Rakyat bisa jadi pintu sempit, bukan pintu terbuka.

Semangatnya Mulia, Tapi Jangan Jadi Jalur Paralel yang Tak Inklusif

Pendidikan inklusif adalah semangat untuk menyatukan.
Bahwa sekolah bukan hanya tempat bagi yang siap, tapi tempat untuk menyiapkan semua.

Ketika Sekolah Rakyat berdiri berdampingan dengan sekolah formal, ada risiko:
Bahwa anak-anak miskin, yang tidak lulus seleksi formal, akan “dialihkan” ke Sekolah Rakyat.
Lalu bagaimana dengan anak-anak miskin yang juga difabel?

Apakah mereka punya dua lapis kerentanan yang membuat mereka justru tidak punya tempat di mana-mana?

Harapan: Sekolah Rakyat yang Benar-Benar Rakyat

Saya percaya, Sekolah Rakyat bisa jadi harapan baru.
Asalkan tidak hanya memikirkan siapa yang bisa masuk, tapi juga bagaimana semua bisa belajar.

Bayangkan jika Sekolah Rakyat dirancang dengan pendekatan:

✅ Pembelajaran berbasis pengalaman nyata
✅ Fasilitas yang fleksibel
✅ Guru yang punya empati dan pelatihan dasar disabilitas
✅ Lingkungan yang menghargai proses, bukan hanya hasil

Maka Sekolah Rakyat bisa jadi oase, bukan hanya untuk yang tertinggal secara ekonomi, tapi juga yang tertinggal karena sistem belum cukup ramah untuk mereka.

Menutup dengan Doa Kecil

Saya bukan siapa-siapa.
Hanya seorang guru yang melihat betapa anak-anak dengan kebutuhan khusus bisa bersinar jika diberi ruang.
Saya hanya ingin memastikan, bahwa dalam langkah besar yang sedang kita bangun, tidak ada anak yang kembali ditinggal.

Karena sekolah yang sejati adalah rumah belajar untuk semua.
Termasuk mereka yang butuh lebih banyak waktu, lebih banyak pelukan, dan lebih banyak pengertian
.

Menghadirkan Kesetaraan dalam Pendidikan: Suara Ibu untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Menghadirkan Kesetaraan dalam Pendidikan: Suara Ibu untuk Anak Berkebutuhan Khusus

Sebagai seorang ibu yang merawat dan mendampingi anak berkebutuhan khusus, saya sangat memerlukan dukungan yang kokoh dalam memenuhi hak-hak dan kebutuhan anak, terutama dalam hal pendidikan. Kota Banjarbaru telah menegaskan pendidikan sebagai prioritas utama, namun saya berharap kesempatan ini juga diperluas untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Pentingnya penyediaan Guru Pendamping Khusus (GPK) menjadi sorotan utama. Kolaborasi antara sekolah dan pemerintah Kota Banjarbaru dalam menyediakan GPK akan membawa manfaat tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi orangtua. Dukungan anggaran dan pembukaan formasi P3K khusus untuk GPK bisa menjadi solusi efektif.

Kota ini telah mencatat prestasi pendidikan yang mengesankan, namun hal tersebut harus disertai dengan kesadaran untuk memberdayakan setiap individu, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Para ibu yang juga ASN di Kota Banjarbaru mengalami tantangan ekstra dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan peran sebagai orang tua anak berkebutuhan khusus.

Memberikan dukungan ini tidak hanya akan membantu mengurangi beban mereka, tetapi juga memastikan bahwa etos kerja dan kinerja mereka tetap optimal. Dukungan ini juga akan berdampak positif pada kesehatan mental mereka, memungkinkan mereka untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan Kota Banjarbaru secara keseluruhan.

Saya berharap pemerintah Kota Banjarbaru dapat melihat pentingnya langkah ini sebagai investasi jangka panjang untuk mendorong dan memperkuat pencapaian kota inklusi yang welas asih dan kemajuan bagi semua warga, tanpa terkecuali anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarga mereka.

Dengan menyuarakan harapan ini, saya dan para Ibu dari anak berkebutuhan khusus lainnya berkeinginan turut membangun masyarakat yang inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu, memastikan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus mendapat dukungan yang mereka butuhkan untuk mencapai potensi penuh mereka.

Mari bersama-sama menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung bagi semua anak, di mana setiap langkah kecil yang diambil memiliki dampak besar untuk masa depan yang lebih inklusif dan cerah bagi Kota Banjarbaru.

Selamat Hari Ibu bagi para Ibu Spesial
Semoga cinta dan kekuatan kita terus mengalir, memberikan cahaya terang bagi masa depan cerah anak-anak istimewa kita.

Selamat Hari Ibu! Kalian adalah pahlawan sejati.”

“Menyelami Keterbukaan Hati: Menghadapi Pandangan Terbatas terhadap Sekolah Inklusif”

“Menyelami Keterbukaan Hati: Menghadapi Pandangan Terbatas terhadap Sekolah Inklusif”

Kontemplasiku merujuk pada perasaan iba yang muncul ketika saya menyadari masih adanya pandangan sempit bahwa sekolah inklusif berdampak negatif bagi non pdbk. Mengapa masih ada batasan dalam pemikiran dan kedalaman hati mereka?

Sungguh disayangkan bahwa terkadang orang tua atau masyarakat masih terjebak dalam pola pikir yang terbatas, tanpa melihat keindahan dan manfaat yang muncul dari lingkungan inklusif. Mereka mungkin belum sepenuhnya menyadari betapa pentingnya persatuan dalam perbedaan, serta pelajaran berharga yang bisa dipetik dari interaksi dengan anak-anak istimewa.

Namun, mari kita hadapi pandangan itu dengan pemahaman dan kebijaksanaan. Mari kita tunjukkan bahwa sekolah inklusif membawa dampak positif bagi semua murid, termasuk murid kita yang tidak memiliki kebutuhan khusus.

Dalam lingkungan inklusif, murid non pdbk memiliki kesempatan berharga untuk belajar tentang keragaman, mengembangkan toleransi, dan membangun keterampilan sosial yang kuat. Mereka belajar untuk menerima perbedaan, mengasah empati, dan menemukan kekuatan dalam kerjasama tim.

Jadi, mari kita terus membuka pintu hati mereka yang masih terkunci dalam keraguan. Mari kita cerahkan mereka tentang betapa berharganya pengalaman di sekolah inklusif, di mana kita semua bisa tumbuh dan berkembang bersama-sama.

Berkat inklusi, sekolah kita menjadi tempat di mana anak-anak saling mendukung, saling menginspirasi, dan merayakan perbedaan sebagai kekayaan. Itulah semangat yang harus kita pupuk dan lestarikan.

Saya mengundang setiap orang untuk membuka pikiran mereka, melihat dengan mata hati yang terbuka, dan bersama-sama kita perjuangkan inklusi sebagai sebuah nilai yang tak ternilai harganya.

Salam inklusif,

“Mendorong Peran Kader PKK dalam Mengatasi Tantangan Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital”

“Mendorong Peran Kader PKK dalam Mengatasi Tantangan Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital”

Peran yang sangat penting dan strategis dari kader PKK dalam menyebarkan pengetahuan tentang pola asuh anak dan remaja di era digital tidak bisa diabaikan. Dalam menghadapi kemajuan teknologi yang begitu pesat, di mana anak-anak dan remaja semakin terpapar oleh perangkat elektronik dan internet, tantangan dalam pola asuh menjadi semakin rumit dan menantang. Maka tidaklah mengherankan jika program pembentukan kelompok simulasi PAAREDI yang dicanangkan di seluruh kelurahan Kota Banjarbaru dinilai sangat relevan dan berharga.

Di khususnya, kelurahan Guntung Manggis, kecamatan Landasan Ulin, telah menjadi tuan rumah bagi hampir 10 kali kegiatan pembinaan program PAAREDI selama tahun 2023. Program ini telah berhasil mencuri perhatian warga dan kader PKK, terutama POKJA Satu yang menjadikan PAAREDI sebagai program andalan mereka. Dengan kerjasama yang erat antara Ketua POKJA Satu TPPKK Kota Banjarbaru Husnul Khatimah dan Gusti Marliani membina bersama POKJA Satu TPPKK Kecamatan Landasan Ulin dan Kelurahan Guntung Manggis, kelompok simulasi PAAREDI berhasil terbentuk dan terus mendapatkan bimbingan yang terarah dari TPPKK tingkat Kota, Provinsi, hingga Pusat.

Ketua TPPKK Kelurahan Guntung Manggis bersama POKJA Satu adalah ujung tombak dalam kesuksesan pembentukan kelompok simulasi PAAREDI di wilayah tersebut. Tugas mereka tidak hanya terbatas pada pembentukan kelompok, tetapi juga melibatkan pembinaan dan pengawasan yang berkelanjutan. Dengan pendekatan yang terfokus dan terkoordinasi dengan baik, mereka mampu memberikan arahan yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat dalam menghadapi era digital ini.

Peran kader PKK dalam program PAAREDI mencakup berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menyebarkan pengetahuan dan keterampilan mengenai pola asuh anak dan remaja di era digital. Mereka memberikan informasi tentang penggunaan teknologi yang bijak dan aman, mengedukasi pentingnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan perangkat elektronik, dan memberikan contoh pola asuh yang positif dan sehat dalam menghadapi tantangan dunia digital.

Tak hanya itu, kader PKK juga membantu dalam memfasilitasi kelompok simulasi PAAREDI agar dapat berjalan lancar. Mereka turut mengorganisir pertemuan, menyediakan materi yang relevan, serta memastikan partisipasi aktif dari warga binaan. Sebagai penghubung antara masyarakat dan pihak terkait, seperti lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan pemerintah setempat, kader PKK memainkan peran penting dalam memperoleh dukungan dan sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan program ini.

Di era digital yang terus berkembang dengan cepat dan dinamis ini, peran kader PKK sangatlah vital dalam menyebarkan pengetahuan tentang pola asuh anak dan remaja. Melalui pembentukan kelompok simulasi PAAREDI, kader PKK mampu memberikan edukasi dan bimbingan yang tepat kepada masyarakat, sehingga mereka dapat menghadapi tantangan dan risiko yang timbul akibat penggunaan teknologi dengan lebih baik. Dengan sinergi antara TPPKK Kota Banjarbaru, POKJA Satu, dan kader PKK, diharapkan program ini dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi perkembangan anak dan remaja di era digital.

Silaturahmi Inspiratif: Husnul Khatimah dan Perjalanan HIDIMU Kalimantan Selatan menuju Kemitraan yang Kuat dengan MPKS PWM Kalsel

Silaturahmi Inspiratif: Husnul Khatimah dan Perjalanan HIDIMU Kalimantan Selatan menuju Kemitraan yang Kuat dengan MPKS PWM Kalsel

Banjarmasin – Di sebuah pagi yang cerah, aku, Husnul Khatimah, merasa sangat bersemangat karena akan menghadiri acara silaturahmi dengan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Selatan. Sebagai seorang Ibu yang mewakili anak dan individu difabel dengan disabilitas intelektual dan mental, momen ini sangat penting bagi diriku dan rekan-rekan lainnya yang juga merupakan anggota Himpunan Disabilitas Muhammadiyah (HIDIMU) Kalimantan Selatan.

Bertemu dengan MPKS PWM Kalsel: Pintu Kemitraan Terbuka

Sesampainya di lokasi acara, kami disambut dengan hangat oleh para anggota MPKS PWM Kalsel. Mereka menghormati kami sebagai individu dengan kemampuan unik dan memberikan perhatian penuh pada setiap kata yang kami sampaikan. Atmosfir ruangan dipenuhi oleh semangat inklusi dan kesetaraan, menguatkan keyakinan kami bahwa HIDIMU Kalimantan Selatan adalah wadah yang tepat untuk mewujudkan tujuan bersama.

Pembahasan Visi dan Misi HIDIMU: Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Selama pertemuan, kami menyampaikan visi dan misi HIDIMU Kalimantan Selatan yang kami rancang dengan penuh semangat. Kami berharap HIDIMU dapat meningkatkan harkat dan martabat serta kualitas hidup para penyandang disabilitas, serta memajukan pendidikan, kesehatan, dan perekonomian mereka. Setiap kata dan kalimat yang kami ucapkan disambut dengan perhatian dan komitmen dari MPKS PWM Kalsel untuk mendukung dan memfasilitasi rencana HIDIMU.

Peran MPKS PWM Kalsel sebagai Pembina dan Pengarah

Dalam pertemuan ini, kami merasakan sentuhan empati dan perhatian khusus dari MPKS PWM Kalsel sebagai pembina dan pengarah HIDIMU Kalimantan Selatan. Mereka dengan tulus mendengarkan aspirasi kami dan memberikan arahan yang tepat. Mereka berjanji untuk melaporkan kegiatan dan tujuan audiensi ini kepada PWM Kalsel, serta berkoordinasi dengan MPKS Pusat untuk memfasilitasi Musyawarah Wilayah HIDIMU Kalimantan Selatan.

Harapan Masa Depan: Terbentuknya HIDIMU Kalimantan Selatan yang Kuat

Kami, sebagai perwakilan HIDIMU Kalimantan Selatan, merasa terharu dan berterima kasih atas sambutan hangat dari MPKS PWM Kalsel. Kami berharap HIDIMU Kalimantan Selatan dapat segera terbentuk sebagai wadah yang kuat bagi penyandang disabilitas di wilayah ini. Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan MPKS dan PWM Muhammadiyah Kalsel dalam merancang Musyawarah Wilayah HIDIMU yang sukses dan bermanfaat.

Mengakhiri Silaturahmi dengan Harapan Baru

Saat acara silaturahmi berakhir, kami, sebagai perwakilan HIDIMU Kalimantan Selatan, meninggalkan ruangan dengan harapan baru. Kami yakin bahwa HIDIMU Kalimantan Selatan akan menjadi tempat di mana para penyandang disabilitas dapat mengaktualisasikan potensi mereka dan menjalin kemitraan dengan semua pihak yang mendukung inklusi dan kesetaraan. Dalam perjalanan pulang, hati kami penuh dengan semangat dan keyakinan untuk mewujudkan HIDIMU Kalimantan Selatan yang kita impikan.

Helicopter Parenting: Mengenali Pola Asuh yang Hiperprotektif

Helicopter Parenting: Mengenali Pola Asuh yang Hiperprotektif

Pola asuh yang dikenal dengan istilah “helicopter parenting” telah menjadi topik yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan orang tua yang terlalu terlibat dan terlalu protektif dalam kehidupan anak-anak mereka. Gaya pengasuhan ini melebihi batas yang sesuai dengan usia anak dan dapat memiliki dampak negatif pada perkembangan mereka.

Pentingnya Keterlibatan Orang Tua

Tidak dapat disangkal bahwa keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak sangat penting. Menurut psikolog Emily Guarnotta, pola asuh yang baik melibatkan pengawasan dan bimbingan yang tepat sesuai dengan usia anak. Namun, helicopter parenting terjadi ketika orang tua terus-menerus mengendalikan, memantau, dan mencampuri kehidupan anak mereka, yang pada akhirnya dapat menghambat perkembangan anak.

Contoh-contoh Helicopter Parenting

Berikut adalah beberapa contoh praktik pola asuh helicopter parenting berdasarkan usia anak:

  1. Batita: Tidak membolehkan bayi merasakan pengalaman baru, seperti bermain di lingkungan yang sedikit berantakan. Selain itu, reaksi yang berlebihan terhadap kesalahan kecil atau penggunaan kata “jangan” yang berlebihan juga termasuk dalam pola asuh ini.
  2. Balita: Terus berada di dekat anak saat mereka bermain dengan teman sebaya, tidak membiarkan mereka menyelesaikan masalah sendiri, dan terus mengarahkan mereka saat bermain, adalah beberapa contoh helicopter parenting pada usia ini.
  3. Usia sekolah: Membantu anak saat makan dengan berlebihan, terlibat dalam pertengkaran anak dengan teman-teman mereka, memilihkan teman dan aktivitas sosial untuk anak, dan mengiming-imingi mereka dengan hadiah untuk mengikuti kegiatan tertentu adalah contoh-contoh pola asuh helicopter parenting pada usia sekolah.
  4. Usia remaja: Menyelesaikan proyek sekolah atau pekerjaan rumah anak, membersihkan atau merapikan ruangan mereka, membuat dalih untuk perilaku buruk anak, dan membuat keputusan besar untuk anak adalah contoh-contoh helicopter parenting pada usia remaja.

Dampak Buruk Helicopter Parenting

Pola asuh helicopter parenting dapat memiliki dampak negatif pada anak. Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah, kesulitan dalam mengelola stres, tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi, kurangnya empati dan keterampilan sosial, serta lebih berisiko dalam penggunaan obat-obatan terlarang.

Gaya Parenting yang Paling Efektif

Sebagai orang tua, penting untuk menemukan gaya parenting yang paling efektif bagi anak kita. Meskipun setiap orang tua memiliki gaya pengasuhan yang berbeda, banyak pakar setuju bahwa gaya parenting otoritatif adalah yang paling baik. Gaya pengasuhan otoritatif melibatkan pendekatan yang suportif, komunikatif, dan memberikan batasan yang wajar kepada anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoritatif cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi, keterampilan sosial yang baik, dan kemampuan yang baik dalam menyelesaikan masalah dalam hidup.

Menyimpulkan Dampak dan Rekomendasi Gaya Parenting yang Efektif

Secara keseluruhan, helicopter parenting adalah pola asuh yang hiperprotektif dan berlebihan dalam keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak. Pola asuh ini dapat memiliki dampak negatif pada perkembangan anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mencari keseimbangan antara melindungi anak mereka dan memberikan kebebasan dan tanggung jawab yang tepat sesuai dengan usia mereka. Gaya parenting otoritatif adalah pendekatan yang lebih efektif dalam membantu anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik.

Sumber: