Bilur

Saatku terduduk dengan air mencucur
Berderai dari kelopak dan cuping hidung
Aku menggugu…hanya menggagu
Begitu kecil yang Kau tunjukkan padaku
Tapi begitu mengharu biru…!!

Duuh kesombonganku
tak bergeming di batas kefanaanku…
menggilas asa diubun-ubun nafsuku…
menuai lunglai pada tabir ambisiku…
Aku tersungkur……..!!

Tak kuasa bertutur…
Membaur pada kepingan luka uzur
Hingga beringsut pada dinding kufur
Aku terkubur…..!!

Banjarbaru Tanah Banyuku…
18 Nopember 2009

www.hdnicewallpapers.com

Bicara Cinta

Bicara Cinta

Duuh klise jika seumurku
Bicara cinta bak puteri malu
Rona asa tak kuasa membelenggu
Hasrat yang tak seharusnya membiru

Ada yang aneh jika saat ini
Aku rindu mendambamu menemani
Tepian hati yang tersisir rapi
Pun seolah tergelitik tuk menyerak sepi

Aah rama-rama…
Bila kah masa ini kan sirna
Mengancam kuncup-kuncup gulana
Menuai karma disudut luka

Aah Kau Arjuna…
Berhentilah menebar pesona
Jika tak mampu Kau tarik pelana
Maka bersandarlah dipundaknya yang rela

Semoga aku tak terluka….

Merayu Keliru

Kamu ya…
Satu dari jenis berbeda
Mencoba merayu sukma
Dengan kedipan mendamba cinta

Satu-satu
Kau lucuti pakaian kesombonganku
Kau pandangi aurat kesetiaanku
Berharap segalanya dari kenaifanku

Kamu ya…
Satu dari yang tak pernah kujumpa
Mencoba menggoda jiwa
Dengan sentuhan menggila gita

Satu-satu
Kau lepaskan gaun ketegaranku
Kau baui aroma malu-maluku
Meminta segalanya dari kekeliruanku

Sungguh kamu
Satu dari yang sekarang kutahu
Menghimpitku, menusukku, membunuhku…
Menunggu naifku, gilaku dan khilafku…

Sungguh kamu
Satu dari jenismu yang mungkin kutahu…
Keliru jika kau tahu, bahwa aku menunggu mu..
Sayang jika kau rasa, bahwa aku memuja mu…

“Medio Banjarbaru Tanah Banyuku”
04 Oktober 2009

Kelana gembala cinta terluka

Kelana gembala cinta terluka

Jika dalam duka ada segala
Maka akan kugali dia dengan gembira
Sayangnya bahagia menuntut derita
Hingga hanya makna yang mengukir kata

Terbelengguku dalam penat
Menghimpit jiwa dengan beban yang berat
Akankah hanya mengejar kelebat
Dalam hunus sesal yang menggeliat

Oh gembala…
Sungguhku merasa engkaulah damba
Jika tak lekang kurangkai makna
Dalam langkahmu tertatih dusta

Kemana ku membawa
Galau jiwa meretas rana
Fana sukma melecut murka
Menggiring asa dalam balur luka

Oh kelana…
Sungguhku merasa engkaulah aroma
Jika tak lusuh kubingkai asa
Dalam genggammu tersia cita

Dimana kuletakkan kuasa
Pundak angan tlah lelah bertahta
Hangat jiwa tak lagi merona
Menyusuri hasrat dipahit cinta

“Medio Banjarbaru Tanah Banyuku”
03 Oktober 2009

Aku yang Gamang

Pastikan begini…
Mungkinkah begitu
Apakah hanya ini…
Dan haruskah semua itu…

Terjebak kah…
Menjebak kah…
Pasrah kah…
Bangkit kah…

Katakan padaku…
Jangan membisu…
Membuatku menunggu…
Yang tak seharusnya aku…

Mengapa segala…
Membuat kita terpana…
Bukankah kita sesungguhnya…
Mencari apa yang seharusnya…

Aku tak mau menyerah pada takdirku…
Aku hanya mau bernegosiasi dengan nasibku…
Sungguh ku sebenarbenar terlalu…
Jika ku hanya menggagu…

Medio Banjarbaru Tanah Banyuku
02 Oktober 2009

Kecilku dalam Lautan Kasih-Mu

Kecilku dalam Lautan Kasih-Mu

Jika ku gamang…mungkinkah aku berdosa
Jika ku ragu…mungkinkah aku juga berdosa
Sungguh ku kecil… meragu…menggagu..
Sungguh ku tiada… membisu dalam deru, membiru…

Kudapati nafasku dalam terjaga
Membalut raga tersisa usia
Kudapati nadiku dalam syahdu
Mengalir di darah keruhku, membiru…

Jika ku keliru…ampunilah daku
Jikai ku terlalu… tunjukilah daku
Ya sang empu diriku…sungguh ku tiada
Tanpa kasih-Mu tanpa sayang-Mu, wahai segala…

Kudapati tengah malamku sunyi
Membelah angkasa-Mu wahai Sang Merdu
Kudapati penghujung malamku sepi
Menggetar jiwaku dalam ketakberdayaanku…

Ampuni aku…Wahai Tuhanku

Banjarbaru, tanah banyuku
24 Agustus 2009

Kisahmu…duhai anakku…

Duh anakku…
Tak kusangka hadirmu didiriku
Hingga harus kulepas kepergianmu
Maafkan ya nak Bundamu

Tak berujung fikirku
Saat tersudut di relung kalbu
Kelu lidah membeku
Menuai tangisan sedu

Duh anakku…
Bila rindu mendatangimu
Jangan lah kau surutkan langkahmu
Menujulah padaku…Ibumu…

Tak tergantikan sosokmu
Saat Ibumu ini menuju pencipta-Mu
Syahdu kita bersatu
dalam rentang waktu melepasmu

Tegarkan aku, kuatkan aku,
Ibumu…
Duhai anakku…
Dalam genggaman-Mu

Sepenggal yang tersisa,
Banjarbaru tanah banyuku,
05 Maret 2009.