“Dalam Panggung Pura-pura”

Ketika periuk-periuk nasi sudah dilirik

Aroma basipun tak menghambat ambisi

Nafsu eksistensi ekslusif kecintaan diri

Perut-perut lapar milik dia-dia lagi

Benar disana ada dia, dia, sipolos hati

Penggenap keinginan melebihi porsi

Mereka bicara citra ,tapi lupa berkaca diri

Memberi tapi berharap kembali

Transaksipun memenuhi pasar janji-janji

Yang entah kapan ditepati, dipenuhi atau bahkan didustai

Panggung tentang seribu kebaikanpun digelar setiap hari

Siang, malam, orasi, jual diri dan mencaci

Aku dan mungkin penonton lain, hanya mengamati

Terkadang tergoda dengan skenario hebat berakhir sepi

Ah sudahlah, aku mempersilakan apatis menghampiri

Membawa melayang-layang menuju padang sepi


Banjarbaru Tanah Banyuku

20 Mei 2023

Merindu Engkau duhai Kekasih Tuhanku

Aku merasa tidak aneh jika kadang dalam kesibukan

Aku duduk terdiam dan terlintas perasaan syahdu yang membuncah

diiringi derai air mata dan bayangan rumah Tuhan yang semakin jelas dimataku,

Ya Rabb aku merindukan-Mu, dan rumah-Mu dan kekasih-Mu

 

Dan ketika itu pula rasanya segala pencapaian di dunia ini terasa biasa saja, tak ada nilai lebih…

Begitu pula dengan rasa sakit dan kegagalan yg pernah kulalui terasa biasa saja, tak lebih perih…

Bagiku tiada yang lebih syahdu selain menapaki kembali diri yang kecil ini dalam perjalanan penghambaan menuju bait-Nya…

 

Teringatku ketika aku pun membagikan kenikmatan ini dengan putera sulungku yang berkebutuhan khusus

untuk mengunjungi kota perjuangan kekasih-Nya ini dengan segenap keterbatasannya…. dan tak ada kebahagiaan yang sehebat ini tatkala ihram melilit tubuh kecilnya, dan lambaian jemarinya pun lembut mengucapkan salam dalam barisan memulai langkah kakinya dalam tawaf…

 

Saat inipun sembab mataku terasa berat… karena aku merindukan-Mu bersangatan ya Rabb

Bimbinglah kami membuang segala kesombongan diri ini…

Menuju tafakur di bumi-Mu yang akan menjadi pembaringan terakhir hidup ini Ya Rabb…

Dalam segenap penghambaanku dan pemujaanku terhadap kuasa-Mu ya Tuhanku

 

Perjalankan kami kembali ya Rabb menuju bait-Mu… lirihku dalam setiap permohonanku, amiiin.

Berikan Judul

Berikan Judul

Haruskah aku tanyakan, mengapa daun di ranting itu tak bergoyang
Walaupun terlihat dengan jelas jika baru saja awan berarak dengan riangnya

Haruskah aku menebalkan huruf pada rangkaian kata yang sedang kutulis
Padahal tak siapapun yang mungkin memperhatikan kalimat pendek ini

Kadang kita berada pada masa di mana kita harus diam
Hanya menjalaninya dengan senang, tanpa harus mengomentarinya

Dan jika harus begitu, kadang makna tak dapat disimpulkan dari sepenggal perjalanan kita
Namun mereka yang singgah, sekedar menyapa, bahkan hanya bertatap mata telah memaknai
segala yang kita lalui

Maka untuk itu kepada siapapun kamu, aku haturkan terima kasih telah menjadi sebab aku merasakan semua ini
dan untuk semua itu, aku haturkan maaf jika kadang aku terlambat menyikapinya dengan benar

Mari menghayati
Mari menapaki
Mari mensyukuri

Perjalanan yang tidak panjang ini, namun syarat akan makna penghambaan
Karena sesungguhnya kita tak pernah tau kapan kita akan kembali dan dimintai pertanggungjawaban

————————–

Diujung senja langit “guntung payung”
Kurasakan hadir-Mu dalam semburat lembayung milik-Mu
02 Mei 2013

P r a j a

Duuh sang Praja…
Kucari diriku dalam noktah hitam matamu
nyatanya, pun kelebat bayang tak terlihat di sana
sekiranya ini menghiba, tak kan kuayun langkahku ke sana

Wahai Sang Praja
Tak bermaksud kutagih janjiku…
Ujar jua kau nyanyikan….kosong jua kau berikan
Sungguh hanya pada orang seperti diriku
Maksud kemana ditujukan sumpahmu

To Be Part of Life

Every human being created to be a color in the lives of others
Even the worst part could be good for others
and being the best sometimes do not make any good for other people

stairs to the sky often promising freedom
and freedom are often spill anger

and let the children sing and raise the stairs leading to the sky
that shed peace for those who restrain anger

street children pledging peace to one million anger
and scooped up every look innocent sorrow
if pity is paid, then the tears are not a currency
because only those who know, true love does not always give
but true love is forgiveness

Bilur

Saatku terduduk dengan air mencucur
Berderai dari kelopak dan cuping hidung
Aku menggugu…hanya menggagu
Begitu kecil yang Kau tunjukkan padaku
Tapi begitu mengharu biru…!!

Duuh kesombonganku
tak bergeming di batas kefanaanku…
menggilas asa diubun-ubun nafsuku…
menuai lunglai pada tabir ambisiku…
Aku tersungkur……..!!

Tak kuasa bertutur…
Membaur pada kepingan luka uzur
Hingga beringsut pada dinding kufur
Aku terkubur…..!!

Banjarbaru Tanah Banyuku…
18 Nopember 2009

www.hdnicewallpapers.com

Bicara Cinta

Bicara Cinta

Duuh klise jika seumurku
Bicara cinta bak puteri malu
Rona asa tak kuasa membelenggu
Hasrat yang tak seharusnya membiru

Ada yang aneh jika saat ini
Aku rindu mendambamu menemani
Tepian hati yang tersisir rapi
Pun seolah tergelitik tuk menyerak sepi

Aah rama-rama…
Bila kah masa ini kan sirna
Mengancam kuncup-kuncup gulana
Menuai karma disudut luka

Aah Kau Arjuna…
Berhentilah menebar pesona
Jika tak mampu Kau tarik pelana
Maka bersandarlah dipundaknya yang rela

Semoga aku tak terluka….

Merayu Keliru

Kamu ya…
Satu dari jenis berbeda
Mencoba merayu sukma
Dengan kedipan mendamba cinta

Satu-satu
Kau lucuti pakaian kesombonganku
Kau pandangi aurat kesetiaanku
Berharap segalanya dari kenaifanku

Kamu ya…
Satu dari yang tak pernah kujumpa
Mencoba menggoda jiwa
Dengan sentuhan menggila gita

Satu-satu
Kau lepaskan gaun ketegaranku
Kau baui aroma malu-maluku
Meminta segalanya dari kekeliruanku

Sungguh kamu
Satu dari yang sekarang kutahu
Menghimpitku, menusukku, membunuhku…
Menunggu naifku, gilaku dan khilafku…

Sungguh kamu
Satu dari jenismu yang mungkin kutahu…
Keliru jika kau tahu, bahwa aku menunggu mu..
Sayang jika kau rasa, bahwa aku memuja mu…

“Medio Banjarbaru Tanah Banyuku”
04 Oktober 2009

Kelana gembala cinta terluka

Kelana gembala cinta terluka

Jika dalam duka ada segala
Maka akan kugali dia dengan gembira
Sayangnya bahagia menuntut derita
Hingga hanya makna yang mengukir kata

Terbelengguku dalam penat
Menghimpit jiwa dengan beban yang berat
Akankah hanya mengejar kelebat
Dalam hunus sesal yang menggeliat

Oh gembala…
Sungguhku merasa engkaulah damba
Jika tak lekang kurangkai makna
Dalam langkahmu tertatih dusta

Kemana ku membawa
Galau jiwa meretas rana
Fana sukma melecut murka
Menggiring asa dalam balur luka

Oh kelana…
Sungguhku merasa engkaulah aroma
Jika tak lusuh kubingkai asa
Dalam genggammu tersia cita

Dimana kuletakkan kuasa
Pundak angan tlah lelah bertahta
Hangat jiwa tak lagi merona
Menyusuri hasrat dipahit cinta

“Medio Banjarbaru Tanah Banyuku”
03 Oktober 2009