Sudahlah menjadi ABK (anak berkebutuhan khusus) dhuafa pula. Coba saja menjadi mereka atau keluarga mereka barang sebentar, tentu saja menjadi tidak menyenangkan, takut dan cemas. Bayangkan bagaimana mereka harus tegar menghadapi hidup yang tidak terasa adil ini.
Alih-alih menerima gaji ke- 13, 14 seperti layaknya sebuah hadiah, mereka bahkan terusir dari kesempatan kerja karena tidak bisa membawa ABK mereka ketempat kerja, sementara tak satupun orang ada di rumah karena harus mencari nafkah yang belum tentu jua hasilnya.
Kondisi seperti ini bagaikan amplop dan perangko, kenapa demikian karena saya seringkali menemukan kondisi yang saling berhubungan antara kemiskinan dan terlahirnya anak berkebutuhan khusus, walaupun tentu saja tidak sedikit pula yang terlahir dari keluarga berada.
Tidak sedikit rasa malu, campur kecewa dengan keadaan menjadi tumpukan kemarahan yang secara pasti menggerogoti kesehatan mereka dan akhirnya orang tua merekapun tak berdaya secara fisik, bahkan merekapun lantas terlihat kejam, seperti tak perhatian pada ABK mereka, namun kenyataannya mereka itupun sudah tak peduli dengan hidup mereka sendiri.

Sering-seringlah melihat kondisi seperti ini, keluarlah dari zona nyaman kita semua agar kita bisa menampar wajah sendiri dan mulai banyak bersyukur atas nikmat yang kita terima, terasa mudah namun tidak untuk mereka.